
Muna,Sultra cerdas com -Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur telah usai dilaksanakan seminggu yang lalu, namun Percasi Muna masih menjadi cerita bagi sebagian besar masyarakat.
Pasalnya, bukan hanya sukses mencatatkan sejarah dengan pertama kalinya Kejurprov di gelar di Bumi Sowite, tapi keberhasilan menjadi Juara umum di rumah sendiri.
Keberhasilan ini tentu bukanlah keberuntungan sesaat. Perjalanan PERCASI Muna menuju puncak dimulai sejak pengurus baru periode 2025–2029 di bawah komando Ketua Jalaluddin Madjinuhu, S.T.
Persiapan yang dilakukan tidaklah sesaat. Sejak awal tahun, pembinaan atlet telah digencarkan, mulai dari memberikan pelatihan kepada para bibit muda, baik itu tingkat SD, SMP Dan SMA, dan Umum, pembentukan kelompok latihan rutin, hingga pengiriman atlet untuk berkompetisi di ajang luar daerah.
Jadi Keberhasilan meraih 3 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu sekaligus menjadi tuan rumah bukanlah kebetulan semata, melainkan buah dari sistem pembinaan dan latihan yang telah dirancang dan dijalankan secara konsisten sejak lama.
Selain itu, sebagai Ketua Percasi Muna Jalaluddin sendiri pun turut menjadi teladan, ketika akhir tahun lalu berhasil meraih gelar Master Nasional (MN) pada Kejuaraan Nasional Catur di Mamuju, Sulawesi Barat.
Langkah ini membuktikan bahwa pemimpin organisasi sekaligus bisa menjadi atlet yang berprestasi, dan inilah yang kemudian menular ke seluruh tim.
Menariknya, Langkah Brilian Percasi Muna dipuji oleh Ketua PERCASI Sultra sekaligus Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, adalah gebrakan PERCASI Muna yang mulai melakukan pembinaan kepada anak-anak mulai dari pelajar SD, SMP, hingga SMA. Langkah ini dinilai sangat strategis karena membangun fondasi sejak dini, sehingga ketika mereka masuk kategori remaja dan dewasa, pola pikir dan pemahaman taktik catur sudah terbentuk dengan kokoh.
Saat ini, pandangan seluruh pengurus, pelatih, dan atlet PERCASI Muna kini sudah beralih ke cakrawala yang lebih jauh, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Sulawesi Tenggara. Keberhasilan di Kejurprov bukanlah garis finis, melainkan gerbang pembuka menuju panggung yang lebih besar, lebih ketat, dan lebih bergengsi.
Penulis: Rixan Ardian