![]() |
Koltim, Sultra cerdas com - BUMDESA Bersama Tematik Makmur Loea meluruskan kesalah pahaman atas isu yang beredar di masyarakat terkait Program usaha peternakan ayam petelur yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) gabungan tiga desa di Kecamatan Loea. yang di beritakan di beberapa media online.
Klarifikasi ini disampaikan, Kamis (9/7/2026) oleh ketua Dewan pengawas BUMDES Bersama Wayan Sudana memastikan situasi di desa tetap kondusif dan program pemerintahan tetap berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Menurutnya, kalau dilihat dari luar memang tidak nampak bangunan baru, tapi kalau kita masuk ke dalam, ada bangunan baru yang ukurannya 7 m x 14 m, untuk kapasitas kapasitas seribu ekor ayam.
Ia menjelaskan, dari kandang sapi yang direnovasi itu betul adanya, sementara bangunan yang ditambah itu 4 meter. Dari hasil musyawarah kedepannya tidak ada lagi menganggarkan bangunan.
" Semua yang kita kerjakan sesuai dengan RAB. Adapun hubungan komunikasi saya dengan eks Direktur BUMDESA Tematik Makmur Loea masi harmonis hingga saat ini," ujarnya
Adapun pengunduran diri eks Direktur BUMDES, itu atas kemauannya sendiri, ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya, Bahkan sebelumnya ia sempat menyampaikan kepada saya bahwa ia akan mengundurkan diri.
Dari hasil Musyawarah, telur dijual dengan harga Rp 45.000 satu rak kepada warga Tinomu, Mataiwoi dan teposua, sedangkan diluar dari tiga desa itu dijual dengan harga Rp 47.000 hingga Rp 48.000.
Ketua Komisi I DPRD Kolaka Timur Eka Saputra menyampaikan bahwa Komisi I akan selalu merespon dan menerima aduan masyarakat, adapun terkait dugaan penyimpangan penganggaran pada BUMDESA bersama Tematik Makmur Loea sebagaimana yang diberitakan di media online, langsung ditindak lanjuti.
Ia mengungkapkan, Komisi I menentukan langkah-langkah dengan melakukan pengecekan dan mendengar secara langsung melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mengudang Kades Tinomu, Kades Mata Iwoi dan Kades Teposua termasuk pengurus BUMDESA tematik Makmur Loea.
Dalam RDP ini, kita memberikan kesempatan kepada para kepala desa dan pengurus BUMDES untuk menjelaskan terbentuknya BUMDES gabungan tiga desa yang menyepakati membentuk badan kerjasama antardesa, kemudian disepakatilah untuk membentuk BUMDESA tematik Makmur Loea yang bergerak di bidang budidaya ayam petulur.
Anggarannya, dari amanat undang-undang yaitu 20 persen dana ketahanan pangan, dari tiga desa kemudian terkumpullah anggaran sekitar Rp402.063.000, setelah dana terkumpul, kemudian dilakukan musyawarah untuk menentukan RAB.
" Semua berjalan sesuai dengan harapan, walaupun ini baru pertama tetapi mereka didampingi oleh penyedia pakan, penyedia paksin mereka juga dilatih untuk merawat dan membesarkan ayam petelur, sehingga dalam kurun waktu 3 bulan ayam tumbuh baik lalu 3 bulan berikutnya ayam sudah produktif sampai hari ini." Jelasnya
Bahkan, dalam kurun waktu sekitar 6 bulan terhitung Januari - Juni 2026, BUMDESA Bersama Tematik Makmur Loea sudah memiliki laba sekitar Rp60.000.000 di rekening dan itu ada rekening korannya.
Karena itu, BUMDESA bersama ini, tentunya memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar seta mendukung program ketahanan pangan yang telah dicanangkan oleh Presiden RI.
Menurut keterangan pihak inspektorat maupun Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) dari segi regulasi sudah terpenuhi, tata cara pembentukan BUMDESnya juga sudah terpenuhi, anggaran RAB sudah diverifikasi dan tempat pembelian obatnya pun sudah memiliki izin usaha, vaksinnya juga sudah memiliki izin edar.
Oleh karena itu, saya menganggap secara administrasi, secara data dan keterangan tidak ada masalah, namun untuk memastikan apa yang telah dibahas dalam RDP, Komisi I langsung turun melakukan pengecekan di lapangan.
" Hari ini, sekitar jam 08.00 pagi tadi, selaku ketua komisi I bersama inspektorat, didampingi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Babinsa, pendamping desa, kemudian ada dari unsur kecamatan kita melihat langsung kondisi Bumdesa Bersama," terangnya
Iya, tadi setelah kami mengecek langsung di lapangan, ternyata dari anggran Rp 402.063.000, itu sudah termasuk populasi seribu paksin, pakan yang berbeda, termasuk juga ada fasilitas rumah jaga yang tidak ada di Bumdes Usaha Ayam Petelur di desa yang lain.
Sedangkan bangunan kadang sapi yang telah direnovasi menjadi kadang ayam memang masih layak, ukuran kandang sapinya itu adalah 10 m x 7,5 m direnovasi menjadi 14 m x7,5 m, lalu disebelah kandang sapi tedapat bangunan baru dengan luas 7,5 m x14 m, jika digabung jadi digabung menjadi 8 tambah 7,5 berarti 15,5 m x 14 m, inilah yang membedakan besaran bangunan.
" Secara signifikan memang isinya baru 1000 ekor tetapi kapasitasnya adalah 3.000 ekor, sehingga wajar saja jika berbeda antara 250 juta dengan 400 jutaan, bahkan kami menemukan ada item-item yang tidak masuk di dalam RAB, ini masuk Swadaya," pungkasnya
Sementara itu, Kepala inspektorat Kolaka Timur Surya Hatta Amran melalui ketua tim Irban dua Hasidin mengatakan bahwa sebenarnya pembangunan Kandang ayam waktu itu kita sudah lihat dan ukur, namun setelah muncul pemberitaan ini, kami melakukan pengukuran ulang.
" Untuk memastikan bahwa item-item dalam RAB itu sudah sesuai dengan yang terjadi di lapangan," katanya
Bahkan, setelah kami melakukan pengukuran dan pengecekan ulang beberapa item ada kelebihan, ada kelebihan pembelanjaan dan ini Swadaya Contohnya ada boks airnya, pompa air dan kipas angin.
" Penyesuaian RAB ini dilakukan melalui musyawarah antar desa Teposuwa, Mataiwoi, dan Tinomu, untuk menyesuaikan kebutuhan di lapangan." Ujarnya
Dilihat dari prospeknya, memang sangat bagus, apalagi sudah berpenghasilan sekitar 60 jutaan, berarti secara tinjauan kewirausahaan, usaha yang dikelola oleh BUMDES ini sebenarnya sudah bermanfaat bagi desa.
" Jadi kami melihatnya positif dan dari segi pembangunannya pun sudah sesuai. Karena ada penambahan kandang di bagian kiri, bagian kanan ini kurang lebih 4 meter." Imbuhnya
Laporan : Team red
